Jalan(an)in aja dulu

sumber: google.com

Jalanan, satu objek yang muncul dibenak apabila disuruh menceritakan hal-hal tentang kota istimewa ini. Aku suka memperhatikan jalanan di Jogja, rasanya ada manis-manisnya gitu ada yang berbeda. Aku pun seringkali membandingkan kondisi jalan di Jogja dengan kondisi jalan di wilayah Jabodetabek. Khususnya daerah tempat kutinggal sebelumnya, Tangerang Selatan. Begitu banyak terdapat perbedaan, pikirku.

Dari sejauh ini menetap di jogja dan berdasarkan subjektivitasku semata, jalanan jogja emang beda. Berbeda dari Tangerang Selatan khususnya. Bukan hanya agak lancar lalu lintasnya, tapi berbagai hal disekeliling jalanan itu sendiri. Walaupun realitanya di pusat kota jogja tetap saja penuh oleh kendaraan bermotor. Tak jarang lalu lintas menjadi padat, atau biasa kita sebut macet. Macet di pusat kota jogja itu sudah menjadi makanan sehari-hari, terutama saat pagi ataupun sore hari. Ketika liburan yang agak panjang datang, rasanya semakin malas untuk bepergian agak jauh dari kos. Macet terjadi dimana-mana, bis-bis besar dan mobil-mobil berplat non-AB pun hampir selalu terlihat disepanjang jalan. Sepertinya jogja memang menjadi tujuan utama untuk berwisata, khususnya bagi para wisatawan wilayah jawa barat atau jabodetabek. Karena saking sumpek ruwetnya Jabodetabek, orang mencari wisata-wisata bernuansa alam dan Jogja merupakan salah satu lokasi strategis yang menyediakan semua itu didalamnya.

Kembali ke jalanan, kenapa aku bilang jalanan jogja itu beda, ya karena kondisi dan bentuk jalan rayanya yang emang cukup luas nan lebar. Walaupun tidak semua jalan raya jogja lebar, tapi banyak jalanan yang telah terlewati olehku ya kek gitu adanya. Oh iya, mungkin karena jogja sendiri ngga punya jalanan tol. Di Jogja adanya jalan yang super duper lebar–yang kalo mau muter balik, puterannya itu kebangetan deh jaraknya–yang mengelilingi Yogyakarta, namanya Ring Road. Kalo diterjemahin ke bahasa Indonesia itu jadinya jalanan cincin. Ring road ini menggantikan keberadaan jalan tol, bedanya kalau di ring road motor pun boleh lewat. Saat melewati jalan cincin ini, kendaraan baik motor maupun mobil memiliki jalurnya masing-masing.

Jadi, menurut aku selaku orang blasteran jogja tangerang yang gatau juga bisa dibilang rantau apa ngga karena ini sebenernya kampung halamanku juga, jalanan jogja itu punya keunikan sendiri. Di pusat kota, mungkin sudah sangat terbiasa nemuin baliho, pamflet, spanduk, poster ataupun layar tv dengan ukurannya sangat besar yang biasanya terdapat di pinggir perempatan jalan yang lampu lalu lintasnya biasanya cukup padat. Di pinggiran kota jogja, atau lebih jauh lagi dari pusat kota, kamu bisa nemuin jalan yang masih asri dan rasanya tentram aja gitu. Selain itu, dapat terhindar dari padatnya lalu lintas jalan raya perkotaan. Banyak terdapat sawah di kiri dan kanan jalan. Kadang, terdapat pula pohon-pohon berbaris rapi yang menghiasi jalan. Rasanya adem gitu kalo lewatin jalanan yang kaya gitu. Suasana jalanan yang membuat perasaan tentram terkena semilir angin yang sejuk bukan terkena asap knalpot kendaraan bermotor yang bikin emosi jadi naik secara tiba-tiba.

Berbeda dengan jalanan di Jogja. Tangsel atau Tangerang Selatan sendiri merupakan kota kecil dipinggiran Jakarta Selatan yang juga pecahan dari Kota Tangerang sebelumnya. Kota Tangerang Selatan emang gak seluas wilayah tangerang lainnya, apalagi seluas jogja. Dari yang aku rasain, jauh banget perbandingan keduanya. Jalanan di Kota Tangerang selatan emang ngga seluas dan selebar jalanan di jogja. Selain itu, ada perbedaan yang mencolok yaitu keadaan di sisi kiri kanan jalan. Di tangsel jarang banget bahkan ngga mungkin nemuin sawah-sawah gitu. Kalaupun ada mungkin hanya sepetak-petak. Lalu lintas jalanan ditangsel emang ga separah di Jakarta, tapi kalau dibandingkan dengan jogja memang mendingan jalanan jogja. Lalu lintas yang padat itu udah jadi makanan sehari-hari, klakson sana sini, umpatan sana sini, hal seperti itu sudah biasa kita temuin dijalan tangsel. Begitulah tangsel, kota yang selama 18 tahun telah rela menampungku.




Cerita dalam tulisan ini merupakan beberapa pengalaman yang aku rasain sendiri dari jalanan di jogja. Terlepas dari bagaimanapun kondisi jalan jogja ataupun tangsel, seneng aja gitu, kalo lihat jalan yang masih banyak pemandangan ijo-ijonya di sepanjang jalan. Tapi jadi kesel kalo macet dan lampu merah yang lamanya kaya lapisan wafer tango, ratusan. Emang receh kok tulisan ini, males banget ya kan bacanya. Jadi alangkah baiknya udah sampai disini aja, makasih buat yang udah rela-relain baca :)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.