Memori Motor Biru


Memasuki sekolah menengah atas, aku dituntut untuk berangkat dan pulang dari sekolah dengan mandiri. Tidak ada lagi yang namanya menunggu untuk dijemput selepas sekolah. Jarak rumah maupun SMA ku dengan jalan raya yang jauh pun membuatku sulit dan keberatan jika setiap harinya harus naik angkutan umum. Belum lagi saat itu tidak ada yang namanya ojek online,  yang dengan mudahnya diakses hanya tinggal masukan lokasi lalu pesan dan tunggu ojeknya datang.

Atas dasar itulah, aku memutuskan untuk memiliki kendaraan pribadi, lebih tepatnya milik orang tua. Ya, tentu saja, apalagi kalau bukan motor. Kan nggak mungkin bawa mobil ke sekolah, lagi pula nggak mampu beli. Mulailah aku dan bapak mencari ke berbagai showrum/dealer motor bekas, sampai akhirnya aku berjumpa dengan Si Biru. Sebuah motor matic berwarna biru yang sudah lewat dari masa-nya. Motor itu memang keluaran jadul. Mungkin aku masih menginjak sekolah dasar saat motor itu keluar pasaran. Namun, takdir menuntunku hingga menemukannya. Yah, lebay sih emang.

Aku pun memutuskan untuk membelinya, bukan dengan duit sendiri tentunya. Sejak saat itu, akhirnya aku memiliki kendaraan sendiri, bisa pergi kemanapun tanpa perlu diantarkan orang lain. kemampuan mengendarai motorku yang pas-pasan pun meningkat seiring mengendarai motor setiap harinya. Motor biru inilah yang menjadi motor pertamaku hingga sekarang, sebelum digantikan dengan motor biru lainnya.

Motor biru ini memang tidak trendi, tidak sesuai jamannya, tidak pula hemat bensin. Motor itu justru sering bermasalah hingga membuatku harus bolak-balik ke bengkel. Memang tidak ada motor yang sempurna sih, semahal apapun itu. Apapun masalah motor biru, aku tetap memakainya. Setidaknya masih bersyukur memiliki motor yang bisa digunakan kapanpun dibutuhkan.

Setelah lulus SMA dan aku harus berkuliah di luar kota, aku pun membawa serta si Biru. Motor biru yang sudah menemani tiga tahun semasa SMA kini juga akan menemani semasa kuliahku. Sehari sebelum dikirimkan luar kota, bapak membawanya ke tempat service dan sejenisnya. Aku yang masih awam dengan kendaraan motor ya diam saja, tidak menyarankan bapak untuk memperbaiki motor dibagian apa saja. Namun, setelah bapak balik. Aku dibuat kaget dengan penampilan joknya yang berubah. Sungguh diluar dugaan, bapak mengganti gambar joknya menjadi hello kitty, bukannya hitam polos. Melihat itu, aku langsung kecewa dan ingin mengganti joknya saat itu juga, tapi sayangnya motor biru harus segera dikirimkan ke luar kota. Akhirnya aku pasrah harus menerimanya. Menyebalkan memang.

Karena sudah terlanjur, meskipun memalukan, aku tetap memakai jok itu selama kuliah. Tapi karena ciri khas itulah, aku dapat dengan mudah menemukan motor biru itu dari sekian banyak motor di parkiran.

Si biru telah menemaniku selama masa kuliah. Selama hampir empat tahun lamanya, aku sudah mengendarainya ke berbagai tempat hingga ke lokasi terpencil, tersasar, bahkan perjalanan panjang melebihi seratus kilometer, pun hingga ia harus ke tempat service berulang kali karena sering rusak.

Saat di jalan menanjak apalagi yang curam, aku harus sabar membawanya dengan kekhawatiran mandek karena tidak kuat menanjak. Saat perjalanan panjang, aku harus sabar pula bolak balik ke SPBU untuk mengisi tangki bensinnya, karena ia tak mampu memuat bensin sebanyak motor jaman sekarang. Beberapa kali pun ia juga pernah jatuh akibat keteledoran pengemudinya, ya hingga kondisinya makin buruk dan agak tidak nyaman digunakan. Yah, begitulah si biru, dengan segala kekurangannya, dengan segala hal yang terjadi padanya, dengan berbagai memori yang terukir saat bersamanya. Si biru, motor biru yang sekarang sudah lenyap. Selamat tinggal motor biru pertamaku…

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.